Sabtu, 09 Februari 2013
SEDEKAH luar biasa
SEDEKAH TERBAIK SEORANG PEDAGANG NASI ...
Sedekah terbaik yang dilakukan eorang pedagang nasi bernama Imam Syafii
di Surabaya yang biasanya mendapat untung hanya rata-rata Rp 10.000
setiap hari. Suatu hari, di bulan Januari 2007, setelah mendengarkan
tausiyah dari seoraqng ustadz tentang keutamaan sedekah, dia dan
isteriya tergerak hati untuk menyedekahkan seluruh uang tabungan yang
mereka miliki, yaitu hanya Rp 1 juta. Uang tersebut rencananya akan
digunakan untuk membayar kontrakan rumah, rekening listrik, biaya
sekolah anaknya dan lain-lainnya. Akan tetapi akhirnya dengan penuh
keyakinan mereka menyedekahkan seluruh uang tersebut. Uang yang bagi
mereka sangat besar dan sangat berarti karena menyangkut kepastian hidup
bernaung dan sekolah anak-anaknya juga.
Satu minggu berlalu,
tidak ada jawaban apa-apa terhadap sedekah yang mereka keluarkan. Dua
bulan kemudian, mereka mulai goyah dengan keyakinannya tentang sedekah.
Sebab uang tersebut merupakan cadangan satu-satunya yang mereka punyai
untuk berbagai keperluan rumah tangganya.
Isterinya sempat
ingin meminjam uang kepada tetangga, namun suaminya melarangnya.Kal
aupun kita diusir dari rumah kontrakan gara-gara sedekah, mengapa kita
tidak mengadu kepada Allah bu? Begitu kata suaminya.
Benar
saja, tidak berapa lama kemudian, pedagang nasi itu ditunjuk sebagai
koordinator catering korban lumpur Lapindo. Setiap hari dia mendapat
order Rp 30 juta. Apabila mengambil untung 5 % saja, dalam dua bulan
mereka sudah mendapat untung Rp 90 juta! Sejak saat itulah kami merasa
rezeki kami terus mengalitr. Kami yakin ini juga berkat doa
santri-santri Al-Qur'an yang turut kami santuni, kata Imam Syafii.
Bulan November 2007, pedagang nasi itu telah menandatangani kontrak Rp
20 Milyar yakni untuk menyediakan catering dari Group Bakrie. Kini dalam
waktu setahun mereka telah berkembang menjadi tiga perusahaan yaitu PT.
Diana (catering), PT. Kurnia (perusahaan lata catering) dan PT. Prakoso
(supplier produksi catering). Usaha catering mereka bahkan ditabelkan
sebagai terbesar kedua di Surabaya. Sebanyak 120 karyawan bekerja di
tiga perusahaan tersebut.
Selain itu, sebagai wujud rasa
syukur, tahun lalu dia menghajikan 13 anggota keluarga besarnya,
termasuk anaknya. Sedekah tetap mereka jalankan karena mereka merasa
bahwa kekayaan yang mereka miliki berkat dari sedekah 1 juta dulu,
cadangan uang satu-satunya yang mereka miliki. Tidak mudah bagi siapapun
menyedekahkan uang yang baginya sangat berarti, sangat diandalkan bagi
kelangsungan hidup usaha dan tempat bernaungnya termasuk kelanjutan
sekolah anak-anaknya.
Tapi itulah rezeki Imam Syafii, seseorang
yang telah melakukan sedekah terbaik yang mereka punyai, yang telah
mengangkat harkat dan martabat keluarganya yang tadinya miskin dan kini
telah berubah drastis. Rezeki itu memacu cepat perkembangan usahanya.
subhanAllah.
MAU ikuti jalan ini tanpa iklas"an tak berarti apa apa
ihklas kunci semuanya
Rabu, 30 Januari 2013
supirr keren
KISAH dari seorang kawan: Kebesaran Hati Supir ANGKOT Di Bogor
Masih banyak orang baik, cerita ini saya dapatkan waktu saya iseng
bareng teman saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal
Baranang siang, kota Bogor.
Pengemudi angkot itu seorang anak
muda, didalam angkot duduk 7 orang penumpang, termasuk kami. Masih ada 5
kursi yang belum terisi, seperti biasa di tengah jalan, angkot-angkot
saling menyalip untuk berebut penumpang. Namun ada pemandangan aneh,
didepan angkot yang kami tumpangi ada seorang ibu dengan 3 orang anak
remaja berdiri di tepi jalan.
...
Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa
melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju
kembali.
Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot
yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis
ya?”, supir tentu menjawab “ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia
bilang“ Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil
tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa bu, naik saja”, ketika si ibu
tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak
pa-pa ..”
Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang
masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk
mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya
untuk si ibu dan anak-anaknya. Ketika sampai di terminal bis, 4 orang
penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada
Supir.
Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu
membayar dengan uang Rp. 20 ribu. Ketika supir hendak memberi kembalian
(ongkos angkot hanya Rp. 4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk
ongkos dirinya serta 4 orang penumpang gratisan tadi.
“Terus
jadi orang baik ya, Dik” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda
itu... Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan
kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yang
baik hati dan seorang penumpang yang budiman.
Mereka saling
mendukung untuk kebaikan. Andai separuh saja bangsa kita seperti ini,
maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita. Teruslah berbuat baik,
sekecil apapun ketulusan yang kita perbuat tentunya sangat berarti untuk
lain..!!!
Silahkan LIKE dan SHARE ke teman2 anda..Lihat Selengkapnya
KISAH dari seorang kawan: Kebesaran Hati Supir ANGKOT Di Bogor
Masih banyak orang baik, cerita ini saya dapatkan waktu saya iseng bareng teman saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranang siang, kota Bogor.
Pengemudi angkot itu seorang anak muda, didalam angkot duduk 7 orang penumpang, termasuk kami. Masih ada 5 kursi yang belum terisi, seperti biasa di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Namun ada pemandangan aneh, didepan angkot yang kami tumpangi ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan.
...
Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.
Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang“ Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa bu, naik saja”, ketika si ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..”
Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu dan anak-anaknya. Ketika sampai di terminal bis, 4 orang penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir.
Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 20 ribu. Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp. 4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta 4 orang penumpang gratisan tadi.
“Terus jadi orang baik ya, Dik” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu... Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman.
Mereka saling mendukung untuk kebaikan. Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun ketulusan yang kita perbuat tentunya sangat berarti untuk lain..!!!
Silahkan LIKE dan SHARE ke teman2 anda..Lihat Selengkapnya
Masih banyak orang baik, cerita ini saya dapatkan waktu saya iseng bareng teman saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranang siang, kota Bogor.
Pengemudi angkot itu seorang anak muda, didalam angkot duduk 7 orang penumpang, termasuk kami. Masih ada 5 kursi yang belum terisi, seperti biasa di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Namun ada pemandangan aneh, didepan angkot yang kami tumpangi ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan.
Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.
Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang“ Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa bu, naik saja”, ketika si ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..”
Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu dan anak-anaknya. Ketika sampai di terminal bis, 4 orang penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir.
Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp. 20 ribu. Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp. 4 ribu) Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta 4 orang penumpang gratisan tadi.
“Terus jadi orang baik ya, Dik” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu... Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman.
Mereka saling mendukung untuk kebaikan. Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun ketulusan yang kita perbuat tentunya sangat berarti untuk lain..!!!
Silahkan LIKE dan SHARE ke teman2 anda..Lihat Selengkapnya
Langganan:
Postingan (Atom)
